Floral Tumblr Themes
H & M
#9 dan #8 #15HariMenulisBlog

“Untuk kamu, satu-satunya.

…./.-/.-../—-//…/.-/-.—/.-/-./—.//.-/-/.-/..-//…./.-/.-./..-/…//-.././-./—./.-/-.//-.-./.-/.-./.-//.-/.—./.-//.-../.-/—./..//.-/-.-/..-//—/./—/.-/-./—./—./../.-../—/..-/?//.-/-.-/..-//-…/..-/-.-/.-/-.//—-/.-./.-/-./—.//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//-/./-/.-/.—./..//…/..-/-../.-/….//-…/./.-./.-/.—./.-//.-../.-/—/.-//.-/-.-/..-//../-./—./../-.//—/./—/.-/-./—./—./../.-../—/..-//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//

.-/-.-/..-//.—-/.-/-../..//—/.-/.-../..-// =’_’=

—/./—/.-/-./-../.-/-./—./—/..-//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//.-/-.-/..-//-/./.-./-.-/.-/-../.-/-./—.//-/../-../.-/-.-//—/./-./—././.-./-/..//-…/.-/—./.-/../—/.-/-./.-//.—-/.-/-./-/..-/-./—./-.-/..-//—/.-/—/.—./..-//-…/./.-./-/.-/…./.-/-.//

—/./-./-.././-./—./.-/.-.//…/..-/.-/.-./.-/—/..-//—/./—/-…/.-/.—/.-/-.-/..-//-.-/.//-../../—/./-./…/..//-.-/./-/..-/.—-/..-/….//-.—/.-/../-/..-//.-/.-../.-/—//-.-/./-…/.-/…./.-/—./../.-/.-/-.//-../..//—/.-/-./.-//-/.-/-.-//.-/-../.-//.-./..-/…/..-/….//-../..//-../.-/.-../—/-./-.—/.-//

.-/-./-../.-/..//…/.-/.—-/.-//.-/-.-/..-//-../.-/.—./.-/-//—/./—/.-/-./-../.-/-./—.//.—/.-/.—-/.-/…./—/..-//-../.-/.-./..//-.././-.-/.-/-//

.-/-./-../.-/../…/.-/.—-/.-/.-/-.-/..-//-../.-/.—./.-/-//—/./—/-…./../…/../-.-/.-/-.//—/.-/-./-/.-./.-//../-/..-//-.-/.//-/./.-../../-./—./.-/—/..-//

.-/-./-../.-/..//-.-/.-/—/..-//-/.-/…./..-///-…/.-/…./.—/.-//.-/-.-/..-//—/./—/../-.-/../.-./-.-/.-/-./—/..-//…/./-/../.-/.—.//.—/.-/-.-/-/..-//-../.-/.-../.-/—//…./../-../..-/.—./..-//

…././-./-.—/.-//…/.-/.—-/.-//.-/-.-/..-//-/../-../.-/-.-//—/./-./—././.-./-/..//-…/.-/—./.-/../—/.-/-./.-//.—/.-/-.-/-/..-//-…/./—./../-/..-//.—././.-../../-//—/./—/-…/./.-./../—/..-//-.-/./.—./.-/-../.-/-.-/..-//

.-/-./-../.-/../…/.-/.—-/.-//-.-/.-/—/..-//.-/.—./.-/-//—/./-./—././.-./-/..//…/..-/.-./.-/-//../-./..//

Namun, percuma bukan?

Sayangku, aku terlalu malu untuk itu.

Aku tidak bisa menyerahkan pesan ini padamu.”

Kertas itu kini penuh coretan. 

Bertanya bagaimana jendela ini bisa kemasukan sebuah surat. Surat yang sampai ke sosok yang tepat, sosok laki-laki yang selalu mengimajinasikan bagaimana perempuan yang ia cintai bisa memikirkan satu dua hal tentang seorang laki-laki, ternyata menyimpan begitu banyak tipuan.

Tidak rupanya dia tidak sadar. Berhari-hari sudah ia mengamati gerak-gerik perempuan yang tinggal di sebelah kanan rumahnya, dengan kamar tepat di depan jendelanya, yang menulis sebuah surat dengan sandi morse yang harus ia pelajari berminggu-minggu sampai-sampai menemukan solusi membuat jembatan keledai untuk itu, yang ternyata pula menulis untuk laki-laki lain.

Bukan untuk dirinya, begitu pikirnya. Bukan untuk orang yang selalu berusaha mengucapkan selamat pagi untuk seorang perempuan yang senang menyendiri.

Mukanya memerah, tapi marah. Ia menyingkirkan kertas itu keluar jendela.

Kertas itu tidak jatuh, masih tanpa lekuk namun penuh coretan, terbang bersama angin kembali pada tempat penciptanya tanpa memahami perasaan yang ia hancurkan.

‘Untuk kamu, satu-satunya.

Halo sayang, atau harus dengan cara apa lagi aku memanggilmu?

Aku bukan orang seperti itu tetapi sudah berapa lama aku ingin memanggilmu seperti itu

Aku jadi malu

Memandangmu seperti itu aku terkadang tidak mengerti bagaimana jantungku mampu bertahan

Mendengar suaramu membawaku ke dimensi ke tujuh yaitu alam kebahagiaan di mana tak ada rusuh di dalamnya

Andai saja aku dapat memandang wajahmu dari dekat

Andai saja aku dapat membisikkan mantra itu ke telingamu

Andai kamu tahu bahwa aku memikirkanmu setiap waktu dalam hidupku

Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana waktu begitu pelit memberimu untukku

Andai saja kamu dapat mengerti surat ini..

Namun, percuma bukan? 

Sayangku, aku terlalu malu untuk itu.

Aku tidak bisa menyerahkan surat ini padamu.’

Kamu tahu? Peribahasa itu salah. Membuka jendela, membuka ilmu pengetahuan? Tidak juga, kamu semakin tersesat dalam kesalahpahaman. Kamu belum keluar untuk menyaksikan keseluruhan dari kebenarannya.

Pesan ini, jendela ini, kenapa semua kamu salahkan sekarang?

#6 #15HariMenulisBlog

Ayunan ini berayun pelan oleh angin. Imajinasi yang bahkan digali-gali sampai kuku-kuku patah tak ditemukan barang sedikitpun.

Hanya kesalahan tempat ini yang, kurasa, membuatku diam terpaku. Aku salah tempat!

Memang sudah banyak sekali mainan baru di sini, bahkan rumah pohon yang menyambung antara satu dengan lainnya pun ada, tetapi hanya ada beberapa hal yang menarik baik perhatian dan ingatanku:

1. Jungkat-jungkit, tempat di mana aku biasa bermain bersama anak perempuan pemalu yang selalu dikepang dua rambutnya, aku harus berjungkat-jungkit sekitar 5 kali sampai dia berani melangkahkan kaki mendekatiku dan slalu bertanya hal yang sama, “Kalau kamu nggak keberatan. apa aku boleh ikut bermain? apa mainan ini aman? apa kamu tidak takut naik turun seperti itu?” haha jangan khawatir aku bisa menebak begitu caranya mencari topik agar ada seseorang yang mau berbicara dengan dirinya

2. Monkey bar, ibu guru selalu khawatir akan sikap dan sifatku yang kelewat atraktif.  selalu memegangi dari bawah ketika aku memanjat walau aku sudah menangis sampai kejer agar dia melepaskanku, bukan karena aku takut. Sekarang dia sudah berhenti kerja di sini. Beliau yang sudah menylesaikan kuliah manajemennya kini bekerja di sebuah perusahaan besar. Beliau yang dahulu selalu menjaga anak orang dan mendidik mereka, kini bahkan menitipkan putranya yang masih kecil di tempat penitipan anak dekat rumahku

3. Tangga majemuk, aku ingat itu. setiap waktunya pulang kakak laki-lakiku selalu berusaha mengejar dan gagal. Salah sendiri takut ketinggian, aku hanya berputar-putar di tangga majemuk. Asyik sekali mengerjainya. Tapi itu hanya berkisar 2 bulan karena kakak harus ke kota besar untuk bersekolah. Di kota kecil seperti ini siapa pula yang pintarnya termanfaatkan.

Sebuah angin yang lebih besar atau memang ada seseorang yang mendorongku dari belakang, membuatku menghentakkan kaki agar ayunan ini berhenti.

Kutengok ke belakang, tak ada siapa pun atau aku tak tahu apa pun.

Masih banyak kenangan yang ada di sini. Hanya kenangan yang seperti ini yang dapat memaksa air mata keluar. Hanya kenangan ini yang bisa memberitahuku bahwa masih ada banyak hal yang lebih menyakitkan di dunia ini.

Bodoh sekali.

Kenapa orang sepertimu cepat pergi? Bukankah ayunan ini masih pelan? Bahkan jatuh pun belum kurasakan. Sakit tidak masalah.

Aku mengayunkan diri sangat kencang hingga terlempar, dan mengerang kesakitan di atas halaman Taman Kanak-kanak yang sekarang ini dikonblok.

Berusaha mendengar kata-kata dan cengiran itu, “Gitu aja kok nangis.”

Sakit sekali.

#5 #15HariMenulisBlog

Hilang akan mendapati suatu kehilangan manakala kita kelewat susah mendefinisikan sesuatu yang hilang itu, saat tangan sudah tidak kaku mencoba merengkuh kepadatan yang menyublim, juga saat kita belajar untuk bertahan tanpa kenal lelah dari segala deru yang ada dalam diri kita yang tak tahu diri itu. [kau tahu? Terkadang rasa penyesalan itu ada setelah seseorang mulai merasakan kehilangan oleh yang sudah memberikan apa pun demi kehilangan]

An Atheist Professor of Philosophy was speaking to his Class on the problem Science has with God. He asked one of his new Christian students to stand.
Professor: You are a Christian, aren’t you, son?
Student: Yes, sir.
Professor: So, you believe in God?
Student: Absolutely, sir.
Professor: Is God good?
Student: Sure.
Professor: My brother died of cancer, even though he prayed to God to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t. How is God good, then? Hmm?
(Student was silent)
Professor: You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?
Student: Yes.
Professor: Is Satan good?
Student: No.
Professor: Where does Satan come from?
Student: From.. God.
Professor: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?
Student: Yes.
Professor: Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?
Student: Yes.
Professor: So who created evil?
(Student didn’t answer)
Professor: Is there sickness? Immortality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?
Student: Yes, sir.
Professor: So, who created them?
(Student had no answer)
Professor: Science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son.. have you ever seen God?
Student: No, sir.
Professor: Tell us if you have ever heard your God.
Student: No, sir.
Professor: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God? Have you ever had any sensory perception of God, for that matter?
Student: No, sir. I’m afraid I haven’t.
Professor: Yet you still believe in Him?
Student: Yes.
Professor: According to empirical, testable, demonstrable protocol, Science says your God doesn’t exist. What do you say to that, son?
Student: Nothing. I only have my Faith.
Professor: Yes, Faith. And that is the problem Science has.
Student: Professor, is there such a thing as Heat?
Professor: Yes.
Student: And is there such a thing as Cold?
Professor: Yes.
Student: No, sir, there isn’t.
(The Lecture Theatre became very quiet with this turn of events)
Student: Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 Degrees below Zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of Heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.
(There was a pon-drop silence in the Lecture Theatre)
Student: What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?
Professor: Yes. What is night if there isn’t darkness?
Student: You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have Low Light, Normal Light, Bright Light, Flashing Light… But if you have No Light constantly, you have nothing and it’s called Darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it is, You would be able to make darkness darker, wouldn’t you?
Professor: So what is the point you are making, young man?
Student: Sir, my point is, your Philosophical Premise is flawed.
Professor: Flawed? Can you explain how?
Student: Sir, you are working on the Premise of Duality. You argue there is Life and then there is Death, a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, Science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life, just the absence of it. Now tell me, Professor, do you teach your students that they evolved from a monkey?
Professor: If you are referring to the Natural Evolutionary Process, yes of course, I do.
Student: Have you ever observed Evolution with your own eyes, sir?
(The professor shook his head with a smile, beginning to realize where the argument was going)
Student: Since no one has ever observed the Process of Evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor, are you not teaching your opinion, sir? Are you not a Scientist but a Preacher?
(The class was in uproar)
Student: Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?
(The class broke out into laughter)
Student: Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it? .. No one appears to have done so. So, according to the established Rules of Empirical, Stable and Demonstrable Protocol, Science says that you have no brain, sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures?
(The room was silent. The Professor stared at the student, his face unfathomable)
Professor: I guess you’ll have to take them on Faith, son.
Student: That is it, sir.. exactly! The link between man and God is Faith. That is all that keeps things alive and moving!
The student's name was Albert Einstein. Brilliant.
Hari?

Apalah sebuah hari itu, disia-siakan begitu saja, ditunggu hingga usai tanpa perasaan bersyukur.

blowndandelion:

adoooorable :3

blowndandelion:

adoooorable :3

10knotes:

run-stumble-and-fall:
all of the above LOL
Submitted by                                                                                                                       novemberjewel
Follow 10Knotes, the 10,000 notes blog.
REBLOG

REBLOG

sayingimages:

FOLLOW SAYING IMAGES FOR MORE INSPIRED IMAGES & QUOTES

sayingimages:

FOLLOW SAYING IMAGES FOR MORE INSPIRED IMAGES & QUOTES