“Untuk kamu, satu-satunya.
…./.-/.-../—-//…/.-/-.—/.-/-./—.//.-/-/.-/..-//…./.-/.-./..-/…//-.././-./—./.-/-.//-.-./.-/.-./.-//.-/.—./.-//.-../.-/—./..//.-/-.-/..-//—/./—/.-/-./—./—./../.-../—/..-/?//.-/-.-/..-//-…/..-/-.-/.-/-.//—-/.-./.-/-./—.//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//-/./-/.-/.—./..//…/..-/-../.-/….//-…/./.-./.-/.—./.-//.-../.-/—/.-//.-/-.-/..-//../-./—./../-.//—/./—/.-/-./—./—./../.-../—/..-//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//
.-/-.-/..-//.—-/.-/-../..//—/.-/.-../..-// =’_’=
—/./—/.-/-./-../.-/-./—./—/..-//…/./.—././.-./-/..//../-/..-//.-/-.-/..-//-/./.-./-.-/.-/-../.-/-./—.//-/../-../.-/-.-//—/./-./—././.-./-/..//-…/.-/—./.-/../—/.-/-./.-//.—-/.-/-./-/..-/-./—./-.-/..-//—/.-/—/.—./..-//-…/./.-./-/.-/…./.-/-.//
—/./-./-.././-./—./.-/.-.//…/..-/.-/.-./.-/—/..-//—/./—/-…/.-/.—/.-/-.-/..-//-.-/.//-../../—/./-./…/..//-.-/./-/..-/.—-/..-/….//-.—/.-/../-/..-//.-/.-../.-/—//-.-/./-…/.-/…./.-/—./../.-/.-/-.//-../..//—/.-/-./.-//-/.-/-.-//.-/-../.-//.-./..-/…/..-/….//-../..//-../.-/.-../—/-./-.—/.-//
.-/-./-../.-/..//…/.-/.—-/.-//.-/-.-/..-//-../.-/.—./.-/-//—/./—/.-/-./-../.-/-./—.//.—/.-/.—-/.-/…./—/..-//-../.-/.-./..//-.././-.-/.-/-//
.-/-./-../.-/../…/.-/.—-/.-/.-/-.-/..-//-../.-/.—./.-/-//—/./—/-…./../…/../-.-/.-/-.//—/.-/-./-/.-./.-//../-/..-//-.-/.//-/./.-../../-./—./.-/—/..-//
.-/-./-../.-/..//-.-/.-/—/..-//-/.-/…./..-///-…/.-/…./.—/.-//.-/-.-/..-//—/./—/../-.-/../.-./-.-/.-/-./—/..-//…/./-/../.-/.—.//.—/.-/-.-/-/..-//-../.-/.-../.-/—//…./../-../..-/.—./..-//
…././-./-.—/.-//…/.-/.—-/.-//.-/-.-/..-//-/../-../.-/-.-//—/./-./—././.-./-/..//-…/.-/—./.-/../—/.-/-./.-//.—/.-/-.-/-/..-//-…/./—./../-/..-//.—././.-../../-//—/./—/-…/./.-./../—/..-//-.-/./.—./.-/-../.-/-.-/..-//
.-/-./-../.-/../…/.-/.—-/.-//-.-/.-/—/..-//.-/.—./.-/-//—/./-./—././.-./-/..//…/..-/.-./.-/-//../-./..//
Namun, percuma bukan?
Sayangku, aku terlalu malu untuk itu.
Aku tidak bisa menyerahkan pesan ini padamu.”
Kertas itu kini penuh coretan.
Bertanya bagaimana jendela ini bisa kemasukan sebuah surat. Surat yang sampai ke sosok yang tepat, sosok laki-laki yang selalu mengimajinasikan bagaimana perempuan yang ia cintai bisa memikirkan satu dua hal tentang seorang laki-laki, ternyata menyimpan begitu banyak tipuan.
Tidak rupanya dia tidak sadar. Berhari-hari sudah ia mengamati gerak-gerik perempuan yang tinggal di sebelah kanan rumahnya, dengan kamar tepat di depan jendelanya, yang menulis sebuah surat dengan sandi morse yang harus ia pelajari berminggu-minggu sampai-sampai menemukan solusi membuat jembatan keledai untuk itu, yang ternyata pula menulis untuk laki-laki lain.
Bukan untuk dirinya, begitu pikirnya. Bukan untuk orang yang selalu berusaha mengucapkan selamat pagi untuk seorang perempuan yang senang menyendiri.
Mukanya memerah, tapi marah. Ia menyingkirkan kertas itu keluar jendela.
Kertas itu tidak jatuh, masih tanpa lekuk namun penuh coretan, terbang bersama angin kembali pada tempat penciptanya tanpa memahami perasaan yang ia hancurkan.
‘Untuk kamu, satu-satunya.
Halo sayang, atau harus dengan cara apa lagi aku memanggilmu?
Aku bukan orang seperti itu tetapi sudah berapa lama aku ingin memanggilmu seperti itu
Aku jadi malu
Memandangmu seperti itu aku terkadang tidak mengerti bagaimana jantungku mampu bertahan
Mendengar suaramu membawaku ke dimensi ke tujuh yaitu alam kebahagiaan di mana tak ada rusuh di dalamnya
Andai saja aku dapat memandang wajahmu dari dekat
Andai saja aku dapat membisikkan mantra itu ke telingamu
Andai kamu tahu bahwa aku memikirkanmu setiap waktu dalam hidupku
Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana waktu begitu pelit memberimu untukku
Andai saja kamu dapat mengerti surat ini..
Namun, percuma bukan?
Sayangku, aku terlalu malu untuk itu.
Aku tidak bisa menyerahkan surat ini padamu.’
Kamu tahu? Peribahasa itu salah. Membuka jendela, membuka ilmu pengetahuan? Tidak juga, kamu semakin tersesat dalam kesalahpahaman. Kamu belum keluar untuk menyaksikan keseluruhan dari kebenarannya.
Pesan ini, jendela ini, kenapa semua kamu salahkan sekarang?
Ayunan ini berayun pelan oleh angin. Imajinasi yang bahkan digali-gali sampai kuku-kuku patah tak ditemukan barang sedikitpun.
Hanya kesalahan tempat ini yang, kurasa, membuatku diam terpaku. Aku salah tempat!
Memang sudah banyak sekali mainan baru di sini, bahkan rumah pohon yang menyambung antara satu dengan lainnya pun ada, tetapi hanya ada beberapa hal yang menarik baik perhatian dan ingatanku:
1. Jungkat-jungkit, tempat di mana aku biasa bermain bersama anak perempuan pemalu yang selalu dikepang dua rambutnya, aku harus berjungkat-jungkit sekitar 5 kali sampai dia berani melangkahkan kaki mendekatiku dan slalu bertanya hal yang sama, “Kalau kamu nggak keberatan. apa aku boleh ikut bermain? apa mainan ini aman? apa kamu tidak takut naik turun seperti itu?” haha jangan khawatir aku bisa menebak begitu caranya mencari topik agar ada seseorang yang mau berbicara dengan dirinya
2. Monkey bar, ibu guru selalu khawatir akan sikap dan sifatku yang kelewat atraktif. selalu memegangi dari bawah ketika aku memanjat walau aku sudah menangis sampai kejer agar dia melepaskanku, bukan karena aku takut. Sekarang dia sudah berhenti kerja di sini. Beliau yang sudah menylesaikan kuliah manajemennya kini bekerja di sebuah perusahaan besar. Beliau yang dahulu selalu menjaga anak orang dan mendidik mereka, kini bahkan menitipkan putranya yang masih kecil di tempat penitipan anak dekat rumahku
3. Tangga majemuk, aku ingat itu. setiap waktunya pulang kakak laki-lakiku selalu berusaha mengejar dan gagal. Salah sendiri takut ketinggian, aku hanya berputar-putar di tangga majemuk. Asyik sekali mengerjainya. Tapi itu hanya berkisar 2 bulan karena kakak harus ke kota besar untuk bersekolah. Di kota kecil seperti ini siapa pula yang pintarnya termanfaatkan.
Sebuah angin yang lebih besar atau memang ada seseorang yang mendorongku dari belakang, membuatku menghentakkan kaki agar ayunan ini berhenti.
Kutengok ke belakang, tak ada siapa pun atau aku tak tahu apa pun.
Masih banyak kenangan yang ada di sini. Hanya kenangan yang seperti ini yang dapat memaksa air mata keluar. Hanya kenangan ini yang bisa memberitahuku bahwa masih ada banyak hal yang lebih menyakitkan di dunia ini.
Bodoh sekali.
Kenapa orang sepertimu cepat pergi? Bukankah ayunan ini masih pelan? Bahkan jatuh pun belum kurasakan. Sakit tidak masalah.
Aku mengayunkan diri sangat kencang hingga terlempar, dan mengerang kesakitan di atas halaman Taman Kanak-kanak yang sekarang ini dikonblok.
Berusaha mendengar kata-kata dan cengiran itu, “Gitu aja kok nangis.”
Sakit sekali.
Hilang akan mendapati suatu kehilangan manakala kita kelewat susah mendefinisikan sesuatu yang hilang itu, saat tangan sudah tidak kaku mencoba merengkuh kepadatan yang menyublim, juga saat kita belajar untuk bertahan tanpa kenal lelah dari segala deru yang ada dalam diri kita yang tak tahu diri itu. [kau tahu? Terkadang rasa penyesalan itu ada setelah seseorang mulai merasakan kehilangan oleh yang sudah memberikan apa pun demi kehilangan]
Apalah sebuah hari itu, disia-siakan begitu saja, ditunggu hingga usai tanpa perasaan bersyukur.
all of the above LOL
Submitted by novemberjewel






Yogyakarta Time