Floral Tumblr Themes
H & M
#6 #15HariMenulisBlog

Ayunan ini berayun pelan oleh angin. Imajinasi yang bahkan digali-gali sampai kuku-kuku patah tak ditemukan barang sedikitpun.

Hanya kesalahan tempat ini yang, kurasa, membuatku diam terpaku. Aku salah tempat!

Memang sudah banyak sekali mainan baru di sini, bahkan rumah pohon yang menyambung antara satu dengan lainnya pun ada, tetapi hanya ada beberapa hal yang menarik baik perhatian dan ingatanku:

1. Jungkat-jungkit, tempat di mana aku biasa bermain bersama anak perempuan pemalu yang selalu dikepang dua rambutnya, aku harus berjungkat-jungkit sekitar 5 kali sampai dia berani melangkahkan kaki mendekatiku dan slalu bertanya hal yang sama, “Kalau kamu nggak keberatan. apa aku boleh ikut bermain? apa mainan ini aman? apa kamu tidak takut naik turun seperti itu?” haha jangan khawatir aku bisa menebak begitu caranya mencari topik agar ada seseorang yang mau berbicara dengan dirinya

2. Monkey bar, ibu guru selalu khawatir akan sikap dan sifatku yang kelewat atraktif.  selalu memegangi dari bawah ketika aku memanjat walau aku sudah menangis sampai kejer agar dia melepaskanku, bukan karena aku takut. Sekarang dia sudah berhenti kerja di sini. Beliau yang sudah menylesaikan kuliah manajemennya kini bekerja di sebuah perusahaan besar. Beliau yang dahulu selalu menjaga anak orang dan mendidik mereka, kini bahkan menitipkan putranya yang masih kecil di tempat penitipan anak dekat rumahku

3. Tangga majemuk, aku ingat itu. setiap waktunya pulang kakak laki-lakiku selalu berusaha mengejar dan gagal. Salah sendiri takut ketinggian, aku hanya berputar-putar di tangga majemuk. Asyik sekali mengerjainya. Tapi itu hanya berkisar 2 bulan karena kakak harus ke kota besar untuk bersekolah. Di kota kecil seperti ini siapa pula yang pintarnya termanfaatkan.

Sebuah angin yang lebih besar atau memang ada seseorang yang mendorongku dari belakang, membuatku menghentakkan kaki agar ayunan ini berhenti.

Kutengok ke belakang, tak ada siapa pun atau aku tak tahu apa pun.

Masih banyak kenangan yang ada di sini. Hanya kenangan yang seperti ini yang dapat memaksa air mata keluar. Hanya kenangan ini yang bisa memberitahuku bahwa masih ada banyak hal yang lebih menyakitkan di dunia ini.

Bodoh sekali.

Kenapa orang sepertimu cepat pergi? Bukankah ayunan ini masih pelan? Bahkan jatuh pun belum kurasakan. Sakit tidak masalah.

Aku mengayunkan diri sangat kencang hingga terlempar, dan mengerang kesakitan di atas halaman Taman Kanak-kanak yang sekarang ini dikonblok.

Berusaha mendengar kata-kata dan cengiran itu, “Gitu aja kok nangis.”

Sakit sekali.